Postingan

Andrea Hirata, Akhirnya

“Jika anda tak mampu mengubah sistem, maka ubahlah diri anda.”


Pernahkah kalian bermimpi untuk bertemu dengan seseorang? Seseorang yang saat kalian memikirkan sosoknya atau mendengar namanya kalian merasa seperti ada suntikan energi dan semacam ada rasa sesak yang bersemayam di dalam dada. Seseorang yang benar-benar ingin kalian temui sebelum napas tercekat. Jika iya, maka kita sama. Aku juga memiliki seseorang yang teramat kuidolakan hingga membuatku menuliskan namanya dalam daftar resolusi hidupku; bertemu dengan Andrea Hirata, resolusi ke-28.
Lalu sudahkah kalian bertemu dengan tokoh idola kalian? Jika belum, maka aku lebih beruntung dari kalian. Beberapa waktu silam takdir akhirnya mempertemukanku dengannya melalui skenario yang begitu apik. Akan kukisahkan bagaimana mimpi itu terwujud.
Aku harus bersyukur menjadi salah satu penerima beasiswa yang paling banyak diburu abad ini di Indonesia; LPDP. Mungkin kalian tahu bahwa semua awardee harus mengikuti pembekalan atau yang lebih akrab…

Review Novel: Ayah

“Ayah” adalah buku yang telah saya baca beberapa tahun silam. Namun beberapa hari lalu saya bertekad untuk membaca kembali buku ini. Alasannya, karena pekan lalu saya baru saja bertemu dengan penulis fenomenal dari tetralogi Laskar Pelangi yang juga menulis novel Ayah, bang Andrea Hirata. Juga karena saya telah lupa-lupa ingat isi cerita dari novel tersebut karena kemampuan untuk menampung dan mengingat semua buku yang telah saya baca sangatlah terbatas. Oleh karena itu, saya putuskan untuk membuat review dari novel “Ayah” demi menghindari penyakit lupa. Berikut ulasannya.
Judul Buku          : Ayah Penulis                : Andrea Hirata Penerbit              : Bentang Pustaka Tebal                  : 412 hal ISBN                  : 978-602-291-102-9
Seorang anak laki-laki bernama Sabari dari pulau Belitong jatuh hati pada seorang anak perempuan bernama Marlena saat mereka masih duduk di bangku SMP. Di sinilah awal mula kisah hebat mereka.
Sabari tak pernah mengenal lelah untuk menda…

Tentang PK

Ada sebuah hari yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupku. Hari dimana sebuah surel sontak mengubah seluruh rencana hidup dalam sepekan. Surel yang memang kuyakini akan datang namun tak pernah terbayangkan akan secepat itu. Surel yang selalu dinanti oleh para awardee LPDP; Undangan Persiapan Keberangkatan.
Awalnya rasa dongkol bersemayam di dalam dada. “Kenapa mendadak begini? Kenapa tega sekali? Apa yang harus kulakukan di H- sekian? Dimana aku mendapatkan uang untuk segala persiapannya?” dan segala pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati sesak. Ingin menangis saat itu. Untung saja ada ibu yang mendengar keluh kesah dan selalu hadir dengan nasehatnya.
“Bersyukur nak. Syukurlah kamu bisa cepat PK. Jadi bisa lakukan hal lain setelah PK. Jadi tidak lama menunggu. Jangan mengeluh begitu. Syukuri saja.”
Perlahan-lahan aku mulai bisa menguasai diri. Dalam hati aku membatin, pasti tim PK punya pertimbangan yang matang, tak mungkin lah cuma main comot nama tanpa pertimbangan. Namun yang …

Tersesat Dalam Diri

Setiap manusia di muka bumi ini lahir dengan membawa potensinya masing-masing. Namun banyak yang tidak menyadari akan kekuatan yang ada dalam diri mereka. Sesuatu yang harusnya tumbuh besar justru menjadi layu, kering lalu gugur perlahan-lahan. Mereka kemudian lupa diri mereka hingga akhirnya tumbuh menjadi orang lain. Sangat menyedihkan. Tapi itulah yang banyak kita saksikan hari ini; anak-anak di sekeliling kita yang sedang bertumbuh dan tak tahu ingin kemana. Juga para orangtua yang sepatutnya membantu anak-anak mereka untuk menemukan jalan yang tepat justru sama-sama tersesat.
Saya ingin sedikit berbagi cerita tentang ketersesatan dalam menemukan potensi diri. Mengingat saya adalah salah seorang tenaga pengajar di salah satu sekolah swasta di sebuah kota kecil, melihat fenomena seperti ini adalah sesuatu yang cukup sering saya dapati. Tidak jarang anak didik saya bingung memilih jurusan begitu akan mendaftarkan diri ke kampus. Mereka sama sekali tidak pernah membayangkan akan berku…

Aku Seorang Ambivert

Dulu aku tidak pernah benar-benar peduli tentang nama dari kepribadian yang kumiliki. Meski seorang kawan pernah menganjurkanku untuk mengikuti tes kepribadian, aku selalu mengabaikannya. Hingga aku tiba di sore ini dimana aku membaca tulisan seorang youtuber populer berkebangsaan Indonesia di blognya. Pemilik blog rupawan yang dikenal dengan sebutan Kim Jiwon-nya Indonesia ini mengaku sebagai seorang introvert. Seseorang dengan kepribadian yang lebih suka menghabiskan waktu dengan diri sendiri dan segala hal yang bersifat privasi. Aku lalu teringat akan kepribadian lain yang sering orang bicarakan; ekstrovert. Jenis kepribadian yang lebih mudah dan lebih senang bersosialisasi dengan menghabiskan waktu di luar dengan orang lain. Tentu berlawanan arah dengan sifat si introvert. Aku selalu bingung jika orang-orang membicarakan tentang diri mereka yang introvert maupun ekstrovert. Aku seperti tidak menemukan diriku dari kedua kepribadian tersebut. Aku merasa kadang menjadi seseorang yan…

Adakah Yang Lebih Dekat dari Kematian?

Adakah Yang Lebih Dekat dari Kematian?
Di setiap detikmu, di setiap helaan napasmu
Ada yang tengah menantimu
Kawan paling dekat yang sering kau abai padanya

Adakah yang lebih dekat dari kematian?
Di setiap tawamu, di setiap guraumu
Telah menanti kawan sejati yang selalu siap membersamaimu
Untuk kembali pada yang abadi

Dan apa yang lebih indah dari perjalanan menuju keabadian?
Saat semua sakitmu, sedihmu, lukamu dicabut dari dadamu
Hanya tenang yang mengiringimu tuk kembali pada Pemilik Keabadian

Namun sudahkah kau berkemas untuk perjalanan maha panjangmu?
Adakah kau bahkan mengingat kawanmu yang sedang menunggumu setiap saat?
Mungkin kau kerap lupa
Atau mungkin kau sengaja lupa

Bergegaslah
Siapkan dirimu
Siapkan amunisimu
Bersiaplah untuk tiap tanya yang mungkin kau gagap

eLPiDiPi Kali Kedua

Pagi yang cerah dan segar. Matahari perlahan-lahan menyirami salah satu belahan bumi paling selatan. Di sebuah pulau berbentuk K, juga di bagian selatan, tepatnya di ibukota provinsi telah memulai rutinitas hariannya. Ratusan bahkan mungkin ribuan kendaraan memenuhi jalan. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu manusia di luar sana telah memulai harinya. Sama sepertiku. Dengan tujuan yang berbeda-beda. Tempat tujuan hari ini adalah Gedung Keuangan Negara. Apa yang akan kulakukan di sana? Well, let’s see the story below.

Aku masuk ke sebuah gedung yang cukup besar. Telah ada beberapa manusia dengan tujuan yang sama tiba lebih awal. Kami melakukan presensi terlebih dahulu. Kemudian duduk manis menunggu verifikasi dokumen beasiswa LPDP. Ya. Beasiswa paling prestigious di Indonesia abad ini. Betapa tidak, ada banyak rangkaian tes yang harus kami hadapi hingga bisa tiba pada hari ini. Seleksi berkas menjadi penyaring pertama. Kemudian diikuti dengan assessment online yang juga menggugurkan ratu…